Top

Benarkah Di Bulan Terdapat Air? Dan Apa Yang Terjadi Pada Bumi Jika Bulan Menghilang?

Benarkah Di Bulan Terdapat Air? Dan Apa Yang Terjadi Pada Bumi Jika Bulan Menghilang?

Kali ini kita akan membahas tentang satelit bumi, yaitu bulan. Apakah kalian sudah mengetahui sebelumnya kalau bulan adalah satelit bumi? Dan apakah kalian juga sudah tahu bagaimana karakteristik dari bulan? Nah belakangan ini kabarnya jika di bulan terdapat kandungan air padahal selama ini para ilmuwan menduga di sana sama sekali tidak ada air. Apakah memang begitu? Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut lagi, mari kita simak sama-sama artikel di bawah ini.

Pengertian Bulan

Bulan adalah satu-satunya satelit alami yang dimiliki oleh bumi. Bulan merupakan benda angkasa berbentuk bulat yang beredar mengelilingi bumi dalam suatu lintasan garis edar tertentu (orbit). Oleh karena itu, bulan disebut sebagai satelit alam bumi (satelit artinya pengikut).

Jika diprediksi dari ukurannya, bulan merupakan satelit alami yang menempati urutan ke lima terbesar dari satelit alami yang terdapat dalam tata surya. Kata bulan dikenal dengan “Moon” yang berasal dari “Mone” yang berkembang dari kata “Moone”. Kata moone berasal dari kata dalam bahasa Inggris kuno mona. Dalam bahasa Inggris modern nama bulan dikenal dengan istilah luna atau lunar.

Bulan merupakan benda langit yang terdekat dengan bumi dan beredar mengelilingi bumi dari arah barat-timur atau arah negative. Sementara berevolusi mengelilingi bumi, bulan juga berputar pada porosnya dengan kecepatan tertentu. Selain berotasi pada sumbunya dan berevolusi mengelilingi bumi, bersama-sama dengan bumi bulan juga beredar mengelilingi matahari.

Periode revolusi bulan terhadap bumi sekitar 27,3 hari, sedangkan periode rotasinya tepat sama dengan revolusinya yaitu 27,3 hari atau satu bulan sideris, yaitu peredaran bulan mengelilingi bumi dalam suatu lingkaran penuh (360 derajat ).

Bulan berbentuk bulat, bertekstur kasar dan berlubang akibat tumbukan benda luar angkasa. Diameternya ± 3.476 km atau sekitar tiga perempat diameter bumi, jarak rata-rata ke bumi sekitar 384.000 km. Permukaan bulan ini tidak indah seperti penampakannya jika dilihat dari bumi.

Permukaan bulan bergunung-gunung, berlembah dan ada pula yang datar. Hal itu bisa dilihat dengan teropong atau bahkan sudah dibuktikan oleh manusia yang pernah mendarat di bulan. Dapat dilihat juga bahwa bulan memiliki permukaan yang kecerahannya tidak sama, terdapat bagian yang terang dan bagian yang gelap. Hal itu terjadi karena sebenarnya bulan tidak memiliki sinar sendiri. Sinar yang terlihat dari bulan merupakan pantulan sinar matahari yang dipancarkan ke bulan.

Bulan tidak memiliki atmosfer (udara) sehingga tidak ada kehidupan di bulan. Suhu di bulan dapat berubah-ubah, suhu bagian permukaan bulan yang terkena matahari dapat mencapai 110 C, sedangkan pada bagian yang tidak terkena cahaya matahari dapat mencapai –137 C. Bunyi tidak dapat merambat di bulan, karena di bulan tidak ada zat perantara (medium) perambatan bunyi yaitu udara.

Fase-Fase Bulan

Pergerakan bulan dari waktu ke waktu menyebabkan terjadinya perubahan sudut yang dibentuk oleh garis yang menghubungkan antara matahari, bumi dan bulan. Perubahan sudut itu mengakibatkan terjadinya perubahan tampak bulan dilihat dari bumi yang disebut fase bulan.

Fase bulan adalah bentuk bulan yang selalu berubah-ubah dilihat dari bumi karena bagian bulan yang mendapat cahaya matahari berubah secara teratur. Bulan mengalami 8 fase, berikut penjelasannya:

  • Fase Bulan Baru (New Moon)

Pada fase ini sisi bulan yang menghadap bumi tidak menerima cahaya dari matahari, sehingga bulan tidak dapat terlihat dari bumi. Fase ini terjadi di hari pertama, ketika bulan berada diposisi 0 derajat.

  • Fase Sabit Muda (Waxing Crescent)

Pada fase ini, kurang dari setengah bagian dari bulan yang menyala. Selama fase ini berlangsung bagian bulan yang terlihat dari bumi semakin lama akan semakin besar. Fase ini terjadi pada hari keempat ketika bulan berada di posisi 45 derajat. Jika dilihat dari bumi, maka terlihat penampakan bulan yang melengkung seperti sabit.

  • Fase Kuartal III (Third Quarter)

Pada fase ini bulan tampak seperti setengah lingkaran. Fase ini terjadi di hari ke delapan ketika bulan berada di posisi 90 derajat.

  • Fase 4 (Waxing Gibous)

Fase ini dimulai dengan setengah bagian yang tampak akan lebih besar. Jika diperhatikan dari bumi akan terlihat seperti cakram yang biasa disebut dengan bulan cembung. Fase ini terjadi pada hari kesebelas, ketika bulan berada pada posisi 135 derajat.

  • Fase Bulan Purnama (Full Moon)

Selanjutnya bulan berada pada sisi berlawanan dengan bumi, sehingga cahaya matahari sepenuhnya terkirim ke bulan. Fase ini terjadi di hari ke empat belas, ketika bulan berada pada posisi 180 derajat. Fase ini bulan terlihat seperti lingkaran penuh atau sering dikenal dengan istilah bulan purnama.

  • Fase 6 (Wanning Gibous)

Pada fase ini bagian bulan yang dari bumi akan semakin kecil secara bertahap. Fase ini terjadi di hari ke tujuh belas, ketika bulan berada pada posisi 225 derajat. Penampakannya kembali seperti cakram.

  • Fase Kuartal I (First Quarter)

Pada fase ini kembali terlihat sebagian dari bulan terlihat. Fase ini terjadi di hari kedua puluh satu, ketika bulan berada tepat pada posisi 270 derajat. Penampakannya sama seperti bulan pada fase Kuartil III.

  • Fase Sabit Tua (Waning Crescent)

Pada fase terkahir ini, sebagian kecil dari bulan terlihat. Fase ini terjadi di hari ke dua puluh lima, ketika bulan berada pada posisi 315 derajat. Penampakan pada fase bulan terlihat sama seperti pada posisi 45 derajat. Bulan tampak seperti sabit.

Benarkah Di Bulan Terdapat Air?

Selama ini para ilmuwan menduga bahwa di bulan sama sekali tidak terdapat kandungan air. Namun belakangan ini, penelitian ilmiah terbaru menemukan bukti-bukti yang semakin menguatkan indikasi mengenai keberadaan air di bulan. Ilmuwan di Brown University mengatakan kemungkinan masih ada air lebih banyak di bulan.

Meski begitu, para ilmuwan belum bisa menentukan seberapa basah permukaan bulan. Studi terkini berusaha menjawabnya dengan menggunakan “Pemetaan Mineralogi Bulan”. Dengan menganalisis gambar satelit, para ilmuwan berhasil menemukan bukti bahwa air terjebak di dalam “manik-manik kaca” dalam abu dan bebatuan purba yang dipancarkan gunung berapi di permukaan bulan yang dikumpulkan pada proyek Apollo 15 dan 17 di dekade 1970-an silam.

Tim ilmuwan baru-baru ini menyatakan bahwa asteroid adalah penyumbang air di bulan. Tak sedikit asteroid yang menabrak bulan lebih dari empat miliar tahun lalu menjadi alasan mengapa bulan mengandung komponen air begitu banyak. Tim ilmuwan dari Inggris, Amerika Serikat dan Perancis melakukan penelitian dan mengatakan dulunya bulan memiliki lautan yang luas.

Meskipun penelitian ini menunjukkan bahwa air di bulan begitu melimpah, tetapi sulit untuk mengetahui dengan pasti berapa jumlahnya. Studi dari tahun 2011 mengungkapkan bahwa butiran vulkanik mengandung air dalam jumlah yang sama seperti basal vulkanik di bumi. Temuan baru ini dapat bermakna bahwa setidaknya sebagian lapisan bulan mungkin memiliki banyak air, layaknya di bumi.

Selain itu, jika terdapat begitu banyak batuan yang memiliki kandungan air, maka ada kemungkinan pula tentang simpanan air di kawasan kutub sebagaimana yang terjadi di bumi. Jika benar ada air di kutub bulan, maka pengunjung bulan dapat mengambil air di sana tanpa harus membawa persediaan sendiri dari bumi.

Pengaruh Pada Bumi Jika Tidak Ada Bulan

Hubungan bumi dan bulan sangatlah erat, jika bulan tiba-tiba menghilang dari angkasa akan berdampak signifikan bagi kehidupan di bumi. Berdasarkan beberapa sumber terdapat beberapa hal yang akan terjadi di bumi jika dikaitkan dengan bulan sperti berikut ini:

  • Langit dimalam hari akan sangat gelap

Bulan merupakan suatu objek yang sangat terang saat malam hari tiba. Saat mati lampu pasti kita akan keluar rumah dan melihat betapa cerahnya cahaya bulan, apalagi saat bulan purnama. Lalu apa jadinya jika tak ada bulan? Akan dipastikan langit dimalam hari akan jadi lebih gelap.

Tetapi ilmuwan menjelaskan bahwa objek cerah lainnya yang masih dapat dilihat dalam kegelapan adalah planet Venus. Sayangnya cahaya planet Venus masih kalah dengan cerahnya cahaya bulan. Karena cahaya yang dihasilkan bulan, apalagi saat bulan purnama akan mencapai 2000 kali lipat dari pada cahaya yang dihasilkan planet Venus.

  • Tidak ada pasang surut laut

Pasang surut air laut banyak dipengaruhi oleh daya tarik menarik antara gravitasi bumi dengan bulan. Namun jika bulan tiba-tiba menghilang, maka tidak akan ada lagi pasang surut air laut. Laut tetap akan memiliki ombak karena matahari juga memiliki pengaruh terhadap pergerakan air laut di bumi.

Akan tetapi, ada perubahan yang cukup signifikan terhadap pergerakan arus lautnya. Hal tersebut dapat mengancam kelangsungan hidup spesies-spesies laut yang mengandalkan pergerakan arus tertentu yang membawa nutrisi untuk mereka. Nelayan juga akan kerepotan karena tidak bisa menentukan kapan waktu yang tepat berlayar dan kapan yang potensi ikannya banyak. Dan tentu saja ini bisa berpengaruh terhadap kehidupan laut secara keseluruhan.

  • Dapat memicu Gempa Bumi dan Gunung meletus

Bulan sudah mengelilingi bumi selama milyaran tahun. Dengan kata lain inti bumi sudah terbiasa dengan daya tarik menarik dengan gravitasi bulan. Jika bulan tiba-tiba menghilang, maka inti bumi akan mengalami kecanggungan yang dapat memicu berbagai bencana alam seperti gempa bumi dan gunung meletus.

  • Satu hari bisa mencapai 9600 Jam

Pada masa kita sekarang bumi satu hari sama seperti 24 jam. Tapi puluhan juta tahun yang lalu kecepatan rotasi bumi sangatlah cepat, bahkan bumi pernah mengalami periode satu hari sama seperti 10 jam bahkan 5 jam.

Para ilmuwan menyimpulkan bahwa ini terjadi dilihat dari keadaan biota laut pada puluhan juta tahun yang lalu. Ada salah satu jenis biota laut yaitu koral, dia mempunyai pola lekuk yang tergantung dari sinar matahari. Jika pergerakkan sinar matahari semakin cepat maka polanya akan semakin rapat.

Dan pada zaman dahulu pola lekukan fosil biota laut ini jauh lebih rapat dari pada biota laut saat ini. Artinya pada zaman dahulu bumi berputar lebih cepat, sehingga menyebabkan pergerakkan sinar matahari akan lebih cepat. Jadi jika bumi tanpa bulan, maka bumi bisa mengalami 9600 jam selama satu hari. Wow bagaimana bisa manusia menjalani waktu 1 hari dengan waktu selama itu!

  • Bumi akan meleleh

Bulan adalah faktor utama dalam terjadinya gerhana matahari. Bulan bertugas menahan cahaya matahari supaya tidak dapat menerobos bumi saat gerhana matahari berlangsung. Jadi jika tidak ada bulan, yang pasti permukaan bumi akan langsung terbakar habis oleh sinar gerhana matahari. Istilahnya lainnya yaitu badai matahari. Tentunya dalam sekejap manusia akan langsung musnah.

  • Berpengaruh pada musim

Bulan membantu posisi bumi berada pada derajat kemiringan (23 derajat) yang tepat di tata surya sehingga musim-musim yang ada di bumi sekarang normal seperti yang kita rasakan dan juga cahaya matahari sampai dengan pas ke bumi.

Jika tidak maka bisa jadi bumi akan mengalami hari-hari dan musim yang liar dan ekstrim. Seandainya tidak ada bulan, negara Inggris hanya punya dua macam musim, yaitu musim semi dan musim gugur. Di daerah kutub utara dan selatan, matahari tidak bisa terlihat di langit.

 

Demikianlah pembahasan kita mengenai bulan di atas tersebut, apakah sudah cukup menjawab pertanyaan-pertanyaan kalian selama ini? Maka dari itu, sekian dulu ya perjumpaan kita kali ini. Semoga bermanfaat untuk semua pembaca, see you…