Top

Pengertian Kompor, Sejarah Serta Jenisnya

Pengertian Kompor, Sejarah Serta Jenisnya

Di dalam menjalani kehidupan, kita sebagai manusia tentunya memiliki kebutuhan primer yang mana harus terpenuhi. Salah satu kebutuhan primer yang ada pada manusia salah satunya adalah makan. Manusia membutuhkan makanan untuk tetap bertahan melanjutkan kehidupan.

Tidak seperti makhluk hidup yang lainnya yang bisa langsung memakan makanannya, manusia perlu untuk mengolah terlebih dahulu makanannya sebelum akhirnya di konsumsi. Dan tentunya kita semua tahu biasanya manusia mengolah makanannya dengan cara dimasak.

Kebiasaan manusia untuk memasak terlebih dahulu makanannya tentunya sudah ada sejak jaman dulu. Selain agar makanannya higienis, dengan memasak tentunya akan menambah cita rasa dari makanan itu sendiri. Sampai sekarang kita tahu ada banyak sekali macam-macam olahan makanan yang ada di dunia.

Di dalam urusan memasak, selain alat-alat yang digunakan untuk memotong tentunya terdapat satu hal lagi yang tidak pernah terlepas dari kegiatan memasak ini. Ya, hal yang dimaksudkan tersebut adalah kompor. Kompor seakan-akan menjadi sebuah inti yang harus ada di dalam proses memasak.

Kompor sangat berguna sebagai alat masak yang merupakan sumber pengapian. Tentunya ada banyak hal yang bisa kita bahas mengenai kompor pada artikel kali ini. Nah, untuk penjelasan lebih lengkap mengenai kompor, silahkan simak ulasannya berikut ini.

Pengertian Kompor

Pastinya kita semua sudah tidak asing lagi dengan kompor. Benda yang satu ini sudah dapat dipastikan selalu ada di setiap dapur yang ada di seluruh dunia. Karena sejatinya kompor merupakan salah satu alat masak yang utama yang mana berfungsi sebagai penyedia sumber panas atau api.

Kompor memiliki arti dalam kelas nomina atau kata benda sehingga kompor dapat menyatakan nama dari seseorang, tempat, atau semua benda dan segala yang dibendakan. Kompor (dari bahasa Belanda: komfoor) adalah alat masak yang menghasilkan panas tinggi. Kompor mempunyai ruang tertutup / terisolasi dari luar sebagai tempat bahan bakar diproses untuk memberikan pemanasan bagi barang-barang yang diletakkan di atasnya.

Kompor diperkenalkan sejak masa kolonial, sehingga menggunakan bahan bakar cair (terutama minyak tanah atau spiritus bakar), gas (dalam bentuk padatan cair LPG atau lewat pipa saluran), atau elemen pemanas (dengan daya listrik). Kompor biasanya diletakkan di dapur atau laboratorium.

Selain itu, kompor juga dipakai untuk menaikkan suhu ruang pemanas. Pemanasan ini menghasilkan perubahan fisik, kimiawi, atau biologis benda. Pemanasan benda padat dapat dilakukan seca­ra langsung di atas api atau . secara tak langsung de­ngan memakai media tertentu. Pemanasan cairan ha­nya dapat dilakukan secara tak langsung dengan menggunakan media.

Dalam ukuran besar, kompor dipakai di pabrik-pa­brik yang membutuhkan proses pemanasan dengan kebutuhan kalori tinggi. Untuk skala kecil, kompor di­gunakan secara luas di setiap rumah tangga untuk me­masak. Memasak umumnya dilakukan dengan media panci, wajan, ketel, sedangkan memasak tanpa media disebut pemanggangan.

Sejauh ini, secara umum kompor secara garis besar dibagi menjadi 3 macam yaitu kompor minyak, kompor gas dan juga kompor listrik. Masing-masing kompor tersebut memiliki definisi yang berbeda-beda pada tiap jenisnya. Dan tentunya juga ketiga kompor ini memiliki definisi yang berbeda.

Kompor minyak tanah memerlukan media untuk mengalirkan bahan bakar dari tempat penampungan­nya ke tempat pembakaran, umumnya berupa sumbu atau pipa penghantar. Minyak tanah mengalir melalui sumbu atas prinsip daya kapiler, yaitu perambatan melalui serabut kapiler yang berupa celah-celah sem­pit sumbu kain, benang, atau serabut. Kebakaran yang sering timbul pada kompor minyak tanah sebagian be­sar diakibatkan oleh kurang sempurnanya desain atau tidak lengkapnya pengisian sumbu di tiap lubangnya.

Hubungan udara yang terdapat antara pembakar dan penampungan bahan bakar dapat melewatkan api, dan bila suhu di atas tempat penampungan minyak sema­kin tinggi kompor dapat meledak. Untuk mencegah bahaya kebakaran, orang antara lain memperkecil ruang tertutup di atas minyak, menambah jarak antara tangki minyak dan tempat pembakaran, serta men­cegah adanya lubang yang menghubungkan tangki minyak dan tempat pembakaran.

Kompor minyak tanah yang memakai pipa memer­lukan udara bertekanan untuk mengalirkan minyak dari tangki ke pembakarnya. Udara bertekanan dapat dihasilkan dengan pompa tekan yang memampatkan udara di dalam tangki minyak, atau dengan gaya gra­vitasi yang dicapai dengan meletakkan tangki minyak lebih tinggi daripada kedudukan pembakar.

Kompor gas menggunakan bahan bakar gas alam cair yang telah dikemas dalam tabung atau dialirkan melalui jaringan pipa gas kota. Pengaliran gas ke pembakarnya dilakukan dengan udara bertekanan atau dengan bantuan tekanan yang dihasilkan pemam­patan gas di dalam wadahnya. Panas yang dihasilkan kompor gas dan minyak tanah merupakan energi yang dilepas saat terjadinya oksidasi bahan bakar dengan oksigen.

Agar oksidasi bisa tercapai, diperlukan tiga syarat, adanya bahan bakar, oksigen, dan suhu di atas titik bakar bahan bakar. Menaikkan suhu hingga men­capai suhu nyala dapat dilakukan melalui percikan atau nyala api, misalnya dari korek api. Fungsi korek api pada kompor gas modern sudah menjadi satu de­ngan sistem pembukaan aliran gas. Saat tombol gas diputar, secara bersamaan terpercik bunga api.

Kompor listrik memiliki cara pembangkitan dan sumber panas yang berbeda. Sumber panasnya bera­sal dari energi di dalam arus listrik, sedangkan pembangkitan panasnya tercipta ketika aliran arus lis­triknya dihambat. Arus listrik yang tertahan akan ter­akumulasi dan melepaskan energi dalam bentuk pa­nas pada media penghambat. Benda yang dipanaskan harus berada di dekat atau ditempelkan pada media penghambat arus listrik (biasanya kawat wolfram).

Pengaturan besar kecilnya panas yang dihasilkan ketiga kompor ini berlainan. Pada kompor minyak ta­nah, pengaturan panasnya dilakukan dengan menga­tur besar kecilnya sumbu yang terbakar. Makin besar sumbu yang terbakar, makin besar jumlah minyak yang tersalur untuk dibakar dan makin besar panas yang dihasilkan.

Pada kompor gas dan kompor mi­nyak tanah berpipa penghantar, pengaturan panasnya dilakukan dengan membesarkecilkan aliran bahan ba­kar. Makin besar aliran bahan bakar, makin besar pa­nas yang timbul. Pengaturan panas kompor listrik di­lakukan dengan mengatur besar kecilnya arus listrik yang terakumulasi pada media penghambatnya. Ma­kin besar hamtfatan listriknya, makin besar listrik yang terkumpul, dan makin besar panas yang dihasil­kan.

Sejarah Perkembangan Kompor

Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, kebiasaan manusia memasak atau mengolah makanannya dengan menggunakan kompor tentunya sudah dilakukan sejak jaman dulu. Dan ternyata penggunaan kompor ini sudah ada bahkan sejak abad ke 18. Tentunya itu adalah waktu yang lama sejak abad 18 sampai sekarang ini.

Ketika manusia sudah mengenal api untuk memasak, mereka mulai membuat sebuah alat yang dapat mereka gunakan untuk memasak. Di China, sejak jaman Dinasti Qin (221-206/207 SM) mereka memasak menggunakan tungku api yang terbuat dari tanah liat. Sedangkan penduduk Eropa pada abad ke 18, masih memasak secara terbuka dengan kayu bakar. Kemudian berkembang dengan membuat lantai yang lebih rendah untuk memasak.

Di Eropa cerita sejarah mengenai kompor dimulai pada abad ke-18. Penduduk Eropa pada masa-masa tersebut masih memasak secara terbuka dengan pembakaran kayu bakar. Lalu berkembang dengan membuat lantai yang lebih rendah untuk memasak. Hingga pada perkembangan selanjutnya yaitu pada abad pertengahan dikenal juga memasak menggunakan perapian dari susunan batu. Perapian kemudian dibuat setinggi pinggang dilengkapi cerobong asap.

Dengan cara ini memasak bisa dilakuakan sambil berdiri tidak harus menunduk, membungkuk atau berjongkok. Panci memasak diletakkan persis di atas api, digantung dengan tiang atau kaki tiga. Untuk mengatur panas tinggal menaikkan atau menurunkan posisi panci. Lalu bentuk kompor mulai di kembangkan sampai akhirnya tungku tidak lagi di pergunakan sejak tahun 1735, karena menghasikan banyak asap dan berbahaya.

Lalu bentuk kompor mulai dikembangkan sampai akhirnya tungku tidak lagi dipergunakan sejak tahun 1735 karena menghasikan banyak asap dan berbahaya. Lalu pada tahun 1922 muncul kompor gas yang di sebut AGA Cooker. Kompor tersebut diciptakan oleh Gustaf Dalen yang berkebangsaan Swedia.

Kemudian pada tahun 1849, Alexis Soyer untuk pertama kalinya memperkenalkan kompor minyak tanah. Kompor ini bertekanan udara yang dicampur dengan minyak tanah. Sedangkan kompor minyak tanah yang sudah sering kamu lihat adalah kompor minyak tanah yang tidak bertekanan karena menggunkan sumbu kompor.

Kompor ini bertekanan udara yang dicampur dengan minyak tanah (mirip dengan kompor pedagang kaki lima jaman dulu). Sedangkan kompor yang lainnya adalah kompor minyak tanah yang tidak bertekanan karena menggunkan sumbu kompor. Namun tidak diketahui secara pasti kapan kompor ini ditemukan.

Kompor gas pertama kali dibuat pada tahun 1820, namun masih dalam bentuk eksperimen dan bersifat rahasia. Baru benar-benar muncul pertama kali pada World Fair di London tahun 1851. Mulai tahun 1880 kompor gas semakin dikenal masyarakat luas dan berkembang secara komersial, walaupun agak terhambat karena pertumbuhan jaringan pipa yang lamban.

Hingga pada saat ini ada berbagai macam bentuk dari kompor gas yang dipergunakan.kompor ini dihubungkan dengan elpiji (LPG) , dimana kita tahu bahwa LPG adalah gas bumi yang dicairkan dengan menambah tekanan dan menurunkan suhunya, gas berubah menjadi cair.

Komponen yang terdapat di dalam LPG didominasi oleh propana (C3H8), butana (C4H10), etana (C2H6) dan pentana (C5H12). LPG dikemas dalam bentuk tabung logam bertekanan agar memungkinkan terjadinya ekspansi panas dari cairan yang dikandungnya, tabung LPG tidak diisi secara penuh, hanya sekitar 80-85% agar apabila terjadi penguapan tidak akan meledak.

Pada 20 September 1859, George B. Simpson di Washington DC, Amerika Serikat mematenkan kompor listrik. Kompor ini menggunakan pemanas dari kumparan, prinsipnya, energi listrik diubah menjadi energi panas lewat kumparan. Seiring perkembangan zaman, di tahun 1970 muncul ide untuk menggantikan kawat dengan glass-caramic, sehingga tidak berbau, berasap, dan ringkas. Kita hanya perlu menyambungkan kompor dengan listrik maka sudah dapat beroperasi dan memasak masakan kita.

Selanjutnya kompor terus mengalami perkembangan bahkan muncul kompor yang menggunakan air. Kompor ini terbuat dari gabungan antara kompor minyak tanah dengan kompor resistansi listrik, dimana kombinasi antara satu sendok teh minyak tanah dan satu liter air sebagai bahan bakar maka kompor tersebut dapat menyala selama satu jam.

Tentu saja sangat jauh lebih hemat bila dibandingkan dengan kompor biasa yang bisa menghabiskan satu liter minyak tanah untuk waktu yang sama. Air tersebut dapat menyalakan api yang sangat kuat, tidak menimbullkan asap, bau, dan tingkat suhu yang juga tinggi. Rahasia hemat dari kompor ini adalah pada perangkat listrik yang dipasang padanya yang berfungsi sebagai alat konversi energi air dan minyak tanah, sekaligus sebagai pengatur panas pada api kompor.

Daya listrik yang dipakai pun tidak banyak, hanya 10 watt saja. Dengan kombinasi listrik, minyak , dan air kompor mampu menyala selama 24 jam penuh dengan satu liter BBM saja. Pilihan bahan bakarnya pun tidak hanya minyak tanah semata, melainkan bisa juga diganti dengan spiritus,alcohol, atau bahan bakar lainnya.

Kompor resistansi listrik kemudian dirombak kembali menjadi kompor digital, kita tidak akan menemukan adanya api disini. Kompor digital hanya merubah energi listrik menjadi suhu yang dapat diatur tanpa membakar objek yang dipanaskan. Sehingga pemakai tidak perlu khawatir tangannya akan terbakar terkena api.

Kompor ini akan menurunkan suhu secara otomatis jika suhu pemanasan telah melampaui batas maksimum sebuah kompor dengan tingkat keselamatan yang lebih tinggi dibandingkan kompor lainnya. Kompor ini diatur oleh sebuah chip mikro kontroler yang menggunakan energi listrik.

Kompor ini tidak akan terasa panas bila dipegang karena dilengkapi dengan panel yang terbuat dari keramik. Sehingga bisa melawan suhu panas. Kompor ini menggunakan api dalam pemanasannya , selama proses pamasakan kompor ini tidak akan memanaskan udara di sekitarnya sehingga aman digunakan di ruangan berAC. Selain itu kompor ini ringan dan bisa dibawa kemana-mana,cukup hubungkan kompor ini ke power inverter sebagai penyedia listrik, kompor siap kita gunakan.

Jenis – Jenis Kompor

Sejauh ini yang sudah dijelaskan terdapat tiga jenis kompor yaitu kompor minyak, kompor gas dan juga kompor listrik. Namun sebenarnya masih ada banyak jenis kompor yang lainnya. Berikut ini adalah beberapa jenis kompor yang ada selain ketiga jenis yang sudah disebutkan pada penjelasan sebelumnya, antara lain :

  • Kompor Anglo

Jenis kompor ini terbuat dari tanah liat. Berbeda dengan jenis kompor yang lain, kompor anglo tidak memiliki ruang pemanas tertutup sehingga api pembakar muncul langsung dari bahan bakarnya. Jika dilihat, kompor jenis ini bisa dikatakan juga sebagai tungku.

Prinsip pemakaian kompor anglo sama seperti tungku batu sederhana, hanya saja dibuat ruang dibagian bawah untuk menampung abu sisa pembakaran bahan bakar padat seperti arang. Pengguna kompor ini tentu saja makin berkurang, namun masih ada sebagian pedagang makanan tertentu seperti pedagang kue serabi yang masih setia menggunakan kompor anglo dengan alasan untuk mempertahankan cita rasa makanan yang khas.

  • Kompor Minyak

Jenis kompor ini cukup populer dalam waktu yang lama sebelum kemunculan kompor gas. Hanya terdapat satu tungku saja dan berbahan bakar minyak tanah dengan sumbu yang berada disekeliling kompor bagian dalam, yang gunanya adalah untuk menyerap minyak tanah hingga bisa naik keatas.

Untuk menyalakannya cukup dengan menggunakan batang lidi yang agak tebal dan panjang. Lalu dicelupkan sedikit kedalam minyak tanah, dibakar, lalu disulutkan kesekeliling ujung sumbu. Walaupun kompor ini menjadi pilihan banyak orang, namun masih terdapat kekurangan. Diantaranya adalah, kompor harus sering dibongkar dan dibersihkan akibat sisa-sisa pembakaran sumbu. Kompor jenis ini sekarang sudah mulai ditinggalkan karena kelangkaan pasokan minyak tanah.

  • Kompor Briket

Kompor berbahan bakar padat batubara ini merupakan pilihan alternatif pengganti kompor dengan bahan bakar minyak tanah. Namun tetap saja dalam penggunaannya, kompor briket batubara ini masih mempunyai kendala dari segi kepraktisan dan nyala bara yang sulit dimatikan secara cepat.

Kelebihan dari kompor ini adalah lebih hemat, tidak menghasilkan asap yang banyak, tidak berbau, menimbulkan panas yang lebih tinggi, nyala bara juga lebih bersih sehingga tidak menghasilkan jelaga pada peralatan memasak, dan kandungan abu yang masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan arang. Abu tersebut juga bisa dimanfaatkan sebagai abu gosok.

  • Kompor Gas

Sebenarnya kompor gas ini juga mencakup jenis kompor freestanding, kompor portabel, dan kompor tanam. Karena sama-sama menggunakan gas sebagai bahan pengoperasiannya. Kompor jenis ini bisa dikatakan sebagai jenis kompor yang populer karena banyak digunakan oleh masyarakat.

Hanya saja secara umum, kompor gas yang dikenal masyarakat hanya memiliki dua tungku saja. Dan bentuknya pun lebih besar dari kompor portabel yang hanya memiliki 1 tungku. Pun keduanya terdapat selang yang terhubung ke tabung gas. Pemilihan kompor gas yang baik sangat penting untuk diperhatikan, mengingat banyak kejadian yang terjadi diakibatkan oleh bagian dari kompor gas yang tidak bekerja dengan baik.

  • Kompor Portable

Jenis kompor ini lebih cocok bagi orang-orang yang masih belum punya tempat tinggal yang tetap, ato masih kost misalnya. Ato bisa juga dipakai saat kalian sedang berkemah. Bentuknya yang ringan dan simpel akan memudahkan kalian untuk dibongkar pasang dan dibawa kemana-mana. Bahan bakar yang dipakai berupa gas kalengan yang biasa disebut gas Hicook.

Cara memasukkannya mudah, pertama kaitkan mulut bawah tabung ke kompor dengan posisi bolongan yang ada dimulut tabung harus berada diatas dan simetris dengan pengait yang ada dikompor. Kemudian tempelkan dan putar tabung sedikit saja kearah kanan. Dari sini kalian tinggal mengatur besar kecilnya nyala api.

  • Kompor Tanam

Jenis kompor ini juga sering disebut hob, terdiri dari 2-4 tungku. Dan biasanya terbuat dari stainless steel ato Tempered Crystal Glass. Kenapa dinamakan kompor tanam? Karena kompor ini memang ditanam pada permukaan top table dapur yang biasanya terbuat dari marmer ato granit.

Kompor jenis ini banyak dipilih oleh orang-orang yang mengutamakan estetika di area dapur, ditambah lagi dengan perawatannya yang cenderung lebih mudah. Dengan menggunakan kompor jenis ini, tentunya suasana dapur akan terlihat elegan dan juga mewah.

  • Kompor Freestanding

Jenis kompor ini sepertinya sudah dikenal secara luas, hanya saja belum banyak orang yang memakai. Dengan pertimbangan harga yang relatif mahal. Namun jenis kompor ini sudah mampu memenuhi kebutuhan secara praktis, karena selain terdiri dari 4-6 tungku yang berada dibagian atas, juga terdapat fitur oven dan tempat penyimpanan tabung gas dibagian bawah.

Mengingat ukurannya yang cenderung besar dengan lebar 80-100cm, maka sebelum kalian membeli, kalian harus memastikan ukuran space dapur yang tersedia terlebih dahulu. Jangan sampai kompor yang terlalu besar mempengaruhi sirkulasi di dapur.

Dan sebagai tips sebelum membeli, tanyakan pada pihak penjual apakah ada fitur pembakar otomatis ato yang biasa disebut automatic ignition. Fitur ini maksudnya adalah, ketika gas diputar, maka api akan langsung menyala secara otomatis. Ada tidaknya fitur ini pastinya akan mempengaruhi harga jual.

  • Kompor Listrik

Jenis kompor ini tentu saja memerlukan tenaga listrik untuk pengoperasiannya, sama halnya dengan kompor induksi. Biasanya terdiri dari 1 tungku saja, ato ada juga yang terdiri dari 2-3 tungku. Namun yang membedakan hanya, kompor listrik akan terasa panas ketika disentuh, sedangkan kompor induksi akan tetap terasa dingin. Dan level pemanasannya pun cenderung lebih kecil daripada kompor induksi.

Kelebihan kompor listrik ini adalah lebih ramah lingkungan karena tidak menyebabkan gas buangan ato polusi udara. Temperatur juga lebih mudah untuk diatur dan bisa disesuaikan dengan bahan makanan yang akan dimasak. Sedangkan kekurangannya adalah ukuran tungkunya yang kecil akan sedikit menyulitkan jika memasak dengan panci ato wajan yang lebar. Selain itu jika tiba-tiba listrik padam, maka aktivitas memasak akan terhenti saat itu juga.

  • Kompor Induksi


Bagi kalian yang merasa kerepotan dengan pemakaian kompor gas yang mengharuskan kalian untuk sering mengganti tabung gas, bisa memilih jenis kompor ini. Sistem kerjanya berasal dari listrik yang tanpa perlu memunculkan api dan akan disalurkan pada penghantar logam sehingga mampu menciptakan panas.

Diawal pemakaian kebutuhan, memang akan menghabiskan daya listrik yang cukup besar. Untuk itu dianjurkan untuk tidak menggunakan perangkat listrik lain secara bersamaan. Kelebihannya, kompor induksi ini akan bekerja sangat cepat sehingga akan menghemat waktu dan biaya. Selain itu permukaan kompor lebih mudah untuk dibersihkan.

Sedangkan kekurangannya, peralatan masak yang dipakai hanya yang terbuat dari stainless steel ato besi. Dengan dasar yang datar, bukan dengan dasar yang melengkung. Saat memasak juga harus sedikit hati-hati untuk menghindari goresan pada permukaan kaca kompor.

Nah demikianlah ulasan mengenai kompor pada artikel kali ini. Berdasarkan uraian di atas, kita semua tahu bahwa ternyata penggunaan kompor sudah ada bahkan sejak abad ke 18. Dan ternyata ada banyak sekali jenis kompor yang ada di dunia dengan tampilan dan juga ciri khasnya masing-masing. Semoga bermanfaat dan terima kasih sudah membaca.